Selasa, 03 Juni 2014

Ringkasan Novel Bidadari-bidadari Surga




Cerita ini diawali dengan seorang Ibu yaitu Mamak Lainuri yang putih dan cantik, sabar penuh kasih sayang dan lemah lembut. Mamak Lainuri yang gagal pada perkawinan pertamanya yaitu dengan ayah kandung dari Laisa yang notabenenya adalah seorang duda beranak satu (Laisa) , Ayah Laisa adalah seorang pemabuk dan kurang bertanggung jawab hingga pada suatu hari Ia meninggal dunia akibat minuman keras dan meninggalkan bayinya pada mamak Lainuri. Bayi itulah yang dikenal dengan Laisa. Bayi itu ditinggal dengan keadaan direndam di baskom sehingga membuat tubuhnya berwarna biru lebam. Akhirnya bayi itu diasuh dan dibesarkan oleh mamak Lainuri.
Hal tersebut membuatnya mencari pasangan lagi. Dari pernikahan keduanya Mamak Lainuri dikaruniai empat orang anak, anak pertamanya adalah Dalimunte, ke dua Ikanuri, ke tiga Wibisana, dan terakhir Yashinta.
Mamak Lainuri dan suaminya sangat baik dan menganggap Laisa seperti anak kandungnya sendiri, Suami Mamak Lainuri bekerja sebagai petani dan sering berpergian ke hutan untuk mencari kayu bakar atau berburu. Sampai pada suatu hari Suami mamak Lainuri ingin pergi ke hutan dan sebelum pergi ia berpamitan kepada Laisa bahwa Laisa harus menjaga mamaknya dan ke empat adiknya saat ayahnya (ayah tirinya) pergi ke hutan, Laisa pun mengiyakan. Beberapa waktu kemudian akhirnya Laisa mendengar kabar bahwa Ayah tirinya itu meninggal dunia akibat diterkam harimau di hutan, Saat itu usia Laisa masih belasan tahun dan Dalimunte masih berumur  tujuh tahun, Ikanuri berumur empat tahun, Wibisana berumur 3 tahun, dan Yashinta masih dalam kandungan. Harimau yang menerkam suaminya sejak beberapa tahun lalu membuat mamak Lainuri harus berjuang sendirian untuk membesarkan anak-anaknya.
Meskipun Laisa bukanlah anak dari mamak Lainuri, namun mamak Lainuri tetap menyayangi Laisa sebagaimana anak kandungnya. Kelima anak tersebut memiliiki karakter yang berbeda. Yang pertama Laisa, merupakan kakak tertua yang dikenal sangat menyayangi adik-adiknya namun tegas dalam mengajarkan adik-adikna untuk terus disiplin dan rajin belajar dan rela mengorbankan apapun demi adik-adiknya sekalipun nyawa sebagai taruhannya.  Fisik Laisa yang gempal, hitam, pendek, gendut dan berambut ikal yang jauh berbeda dengan keempat adiknya yang memiliki kulit putih dan paras wajah yang tampan dan cantik, membuat Laisa sering dipertanyakan sebagai anak kandung atau anak angkat. Meskipun demikian, Laisa tetap tegar dan menganggap itu semua sebagai cobaan yang harus dilaluinya.
Sepeninggal bapaknya, karena Laisa dititipi pesan untuk menjaga adik-adiknya dan membuat keempat adiknya agar dapat mencapai kesuksesan masa depan sebelum ayahnya pergi. Laisa yang  penuh kerja keras dan pantang menyerah bertekad untuk menjalankan amanah bapaknya tersebut dengan mendidik adik-adiknya. Apapun pasti dikorbankan untuk keempat adiknya. Bahkan karena saking menderitanya keluarga tersebut, Laisa bahkan memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu mak Lainuri untuk berkebun agar adik-adiknya yang lain tetap bisa sekolah.
Dalimunte sebagai anak pertama mamak Lainuri yang sejak kecil merupakan anak yang dikenal pintar dan bahkan telah mampu berkontribusi besar bagi desanya. Dalimunte telah memberikan penemuan yang luar biasa bagi desanya, yaitu membuat sistem pengairan yang sampai sekarang telah dinikmati oleh seluruh warga desanya. Meskipun pada awalnya ide itu merupakan ide konyol yang tidak akan mampu terwujud, namun berkat kerja kerasnya Dalimunte berhasil membangun sistem pengairan tersebut. Berkat penemuan tersebut, Dalimunte menjadi lebih dikenal luas oleh penduduk di kampungnya, Walaupun dalam proses pembuatannya itu Dalimunthe sempat kepergok oleh Laisa bolos sekolah untuk membuat penemuannya tersebut sehingga membuat Laisa marah karena merasa Dalih tidak bersyukur telah memiliki kesempatan untuk bersekolah dari hasil Laisa dan mamaknya kerja keras malah menyia-nyiakannya, namun pada akhirnya Laisa dan mak Lainuri bangga terhadap apa yang dilakukan Dalimunthe pada desanya.
Berbeda dengan saudaranya Wibisana dan Ikanuri yang hampir memiliki karakter sama yaitu dikenal sebagai anak  paling bandel dan nakal namun disisi lain sebenarnya mereka ingin membantu mamak Lainuri dan Laisa untuk mencari uang hanya caranya yang salah. Mereka berdualah yang selalu membantah perintah Laisa. Bahkan pernah suatu waktu ketika Ikanuri dan Wibisana tertangkap oleh Laisa sedang bolos sekolah dan mencuri mangga, mebuat Laisa marah dan memukuli mereka dengan batang kayu karena perbuatan mereka, Ikanuripun  marah terhadap kakaknya Laisa, Wibisana dan Ikanuri mengungkapkan langsung bahwa Laisa bukanlah kakak kandungnya karena badan dan wajahnya yang jauh berbeda dengannya dengan berkata “ Kulit kamu hitam, kulit kami putih, kamu jelek, gendut, ikal! Kamu bukan kakak Kami” . Peristiwa tersebut hampir membuat hati Laisa menangis. Namun karena ketegarannya Laisa tetap sabar dan memendam rasa sakit tersebut meskipun sakitnya sampai menusuk ke dalam. Karena kejadian tersebut Ikanuri dan Wibisana marah, mereka pergi ke hutan, sampai malam tiba mereka belum juga pulang, Akhirnya Laisa dan Dalih disuruh oleh Mak Lainuri untuk mencari mereka ke hutan dengan bantuan obor . Sesampainya dihutan ternyata Ikanuri dan Wibasana sedang berada dalam bahaya mereka tersesat dan bertemu dengan harimau, Laisapun menyuruh ketiga adiknya untuk pergi dan Laisa seorang diri menghadapi harimau tersebut, Ia jadi teringat Ayahnya yang meninggal akbat diterkam harimau, Laisapun pasrah dan berdoa, lalu tiba-tiba saja harimau pergi begitu saja. Diketahui bahwa harimau tersebut  memiliki insting kasih sayang, dan harimau itu melihat pancaran rasa kasih sayang yang begitu mendalam dari Laisa terhadap kedua adiknya. Oleh sebab itu harimau tersebut tidak jadi menerkam Laisa. Setelah kejadian tersebut Ikanuri dan Wibisana sangat menyesal dengan perbuatan merekan dan meminta maaf kepada Laisa, akhirnya Laisa, Dalimunthe, Ikanuri dan Wibisana berpelukan ditengah malam dan dibawah sinar kunang-kunang.
Adiknya yang terakhir adalah Yashinta. Merupakan  gadis kecil yang cantik, berkulit putih, berambut coklat panjang, manis namun sedikit agak tomboy. Dia selalu ingin tahu tentang berbagai hal baru, terutama tentang alam dan hewan-hewan lucu. Karena rasa keingintahuannya yang tinggi, Dia selalau meminta Laisa mengantarkannya ke hutan untuk melihat berbagai hewan dan tumbuhan yang unik dan lucu. Meskipun dia lebih kecil dari Laisa, namun kekuatannya melangkah dan menyusururi hutan lebih kuat dibandingakan keempat saudara lainnya.
Selain itu, pernah juga suatu waktu Demi Yashinta, Laisa rela menerobos hujan ketika tengah malam malam saat Yashinta sedang sakit untuk memanggil mahasiswa KKN fak. Kedokteran yang saat itu sedang KKN di desa itu. Dia tidak peduli akan derasnya hujan, dia lari sendirian ke kampung atas yang jaraknya lebih dari 10 km tanpa putus asa. Bahkan dia mempertaruhkan nyawanya. Dia sempat tergelincir hingga mata kakinya berpindah. Itu sangat sakit, sakit sekali namun dia tidak memperdulikannya tetap menerobos hujan. Dan menyimpan lukanya sendirian. Sungguh pengorbanan yang tiada taranya.
Sewaktu mahasiswa-mahasiswa kedokteran tersebut pamit dan Laisapu  berterimakasih kepada mereka, lalu Laisa masuk ke dalam rumah tak sengaja Laisa mendengar percakapan mahasiswa mereka berkata bahwa suhu udara, iklim cuaca dan keadaan lembah Lahambay sangat bagus untuk berkebun strawberry. Dari kejadian tersebut Laisa melakukan terobosan baru dari berkebun jagung menjadi strawberry karena strawberry lebih mahal apabila dijual dikota, walaupun sempat mengalami kegagalan panen karena kurangnya pengetahuan untuk merawat tanaman strawberry namun Laisa tidak mudah menyerah Ia mencoba kembali dan akhirnya berhasil menjadi pengusaha strawberry sukses  hingga bisa menyekolahkan adik-adiknya  sampai ke jenjang perkuliahan.
Waktupun terus berlalu Berkat perjuangan kerasnya selama ini membesarkan adik-adiknya, telah menjadikan adik-adiknya orang yang hebat dan sukses. Dalimunte dengan gelar profesornya yang sampai saat ini sering muncul di Televisi ia mendapatkan gelar profesor termuda, Wibisana dan Ikanuri dengan perusahaan otomotifnya yang telah lama diimpikannya, dan Yashinta yang berhasil meraih gelar S2 nya di Belanda. sementara Kak Laisa tetap tinggal di dusun mereka bersama mamak Lainuri berkebun. Sampailah saat dimana adiknya telah cukup dewasa untuk berumah tangga. Tetapi mereka semua segan untuk melangkahi Kak Laisa. Di kampungnya, jika mendahului perkawinan kakak, maka hal tersebut masih dianggap tabu. Maka mulailah adik-adiknya berusaha mencarikan jodoh untuk Laisa, berkali-kali calon untuk Laisa selalu menolak karena kaget melihat fisik Laisa yang tidak berparas cantik dan semuanya berakhir mengecewakan.
Laisa mengerti adik-adiknya tidak ingin melangkahinya, padahal mereka semua sudah memiliki calon pendamping. Bahkan calon istri Dalimunthe yaitu Cihuy sudah didesak oleh orang tuanya untuk segera dinikahi oleh Dalimunthe apabila tidak sesegara mungkin Cihuy akan dinikahkan dengan orang lain, Dalih tetap menolak untuk menikahi Cihuy dengan segera karena enggan melangkahi kak Lais, Laisa pun marah dan meminta Dalih untuk menikahi Cihuy, akhirnya mereka menikah dan dikaruniai anak. , Laisa sangat mengerti bahwa dirinyalah yang menjadi penghalang kebahagiaan adik-adiknya, dan untuk itu sekali lagi ia dengan keras memaksa adik-adiknya untuk segera menikah dan tidak perlu mempedulikan dirinya. Setelah Dalimunthe menikah Ikanuri dan Wibisana menyusul menikah walaupun sangat berat untuk melangkahi kak Laisa karena itu merupakan permintaan Kak Laisa.
Waktu terus  berlalu tubuh Laisa yang terbiasa bekerja keras akhirnya rubuh juga digerogoti penyakit yang hanya diketahui oleh ibunya. Ternyata penyakit yang diderita Laisa telah lama disembunyikannya yang mengatahui penyakitnya hanya mamak Lainuri . Namun Laisa melarang Mamak Lainuri untuk memberitahukan kepada adik-adiknya Tidak ada satupun adiknya yang tahu kalau dirinya menderita kanker paru-paru, yang pada akhirnya telah sampai pada kanker stadium IV.  Dan sampailah saat dimana untuk pertama kali dan terakhir kali dalam hidupnya dia membutuhkan kehadiran adik-adiknya di sisinya, hingga akhirnya mau atau tidak, keempat adiknya tahu akan penyakitnya itu. Dan permintaan terakhir Laisa adalah melihat Yashinta menikah, akhirnya Yashinta menikah dengan Ghogsky, dan Kak Laisapun sudah tidak mampu lagi berjuang melawan penyakitnya akhirnya ia meninggal dunia dan tersenyum karena telah selesai menunaikan tugasnya sebagai kakak, anak dan telah memenuhi amanat terakhir ayahnya.

Resensi Novel Bidadari-bidadari Surga







IDENTITAS BUKU

Judul Buku
Bidadari-bidadari Surga
Pengarang
Tere-Liye
Penerbit
Republika
TahunTerbit
Cetakan Pertama, 2008
Tebal Buku
vi + 368 halaman
Ukuran Buku
20,5 x 13,5 cm
Harga Buku
Rp. 47.500


Latar Belakang Pengarang
Tere Liye lahir pada tanggal 21 mei 1979, ia berasal dari Sumatera Selatan dan merupakan anak ke enam dari tujuh bersaudara, nama aslinya adalah Darwis, Tere Liye merupakan nama populernya yang diambil dari bahasa India yang artinya untukmu, Ia merupakan mahasiswa lulusan fakultas ekonomi Universitas Indonesia. Hingga saat ini  Tere Liye telah melahirkan 14 karya yang best seller dan diantara semua karyanya ada beberapa novel yang difilmkan seperti Bidadari-bidadari Surga, Hafalan Shalat Delisa(2005), Moga Bunda disayang Alloh(2005).


SINOPSIS
Cerita novel ini menceritakan tentang perjuangan seorang Gadis bernama Laisa yang merupakan Kakak tertua dalam keluarganya ia memiliki 4 orang adik yang pertama bernama Dalimunthe, kedua Ikanuri, ketiga Wibisna dan yang terakhir Yashinta. Laisa bukanlah kakak kandung ataupun anak kandung dari mamak Lainuri, Laisa merupakan anak tiri dari Mamak Lainuri.
Laisa rela berkorban memutuskan untuk tidak bersekolah karena Ayah Tirinya meninggal dunia oleh ulah harimau dihutan, ia harus menjadi tulang punggung keluarga, Laisa dan keluarganya tinggal dilembah Lahambay.
Laisa merupakan gadis yang digambarkan buruk rupa tidak seperti keempat saudaranya yang cantik dan tampan, namun ia memiliki hati yang amat mulia rela berkorban demi menyekolahkan ke empat adiknya, Laisa merupakan seorang petani jagung namun pada suatu hari ia mendengar percakapan mahasiswa kedokteran yang sedang KKN seusai mengobati Yashinta yang sakit, bahwa desanya ini sangat bagus suhu dan iklimnya untuk menanam stroberi, akhirnya Laisa mengajak mamak Lainuri dan ke empat adiknya untuk melakukan terobosan menanam buah stroberi dikampungnya, akhirnya semua perjuangannya berbuah hasil, Laisa berhasil menjadi pengusaha stroberi yang sukses hingga bisa menjadikan adik-adiknya lulus kuliah menjadi orang-orang yang hebat bahkan Dalimunthe berhasil menjadi profesor.
Seiring berjalannya waktu adik-adik Laisa bertumbuh dewasa dan menemukan jodohnya masing-masing, hal ini berbanding terbailk dengan Laisa yang hingga saat ini sulit mendapatkan jodoh, namun merekan segan untuk melangkahi kak Lais untuk menikah. Namun kak Lais menasihati mereka untuk menikah saja. Hingga suatu waktu kak Laisa ternyata menderita kanker paru-paru dan ia menyembunyikan dari keempat adiknya hanya Mak Lainuri saja yang mengetahuinya, ketika semua adiknya tidak berada dirumah, penyakit Laisa bertambah parah hingga akhirnya mak Lainuri mengirimkan pesan ke empat adiknya agar segera pulang, dan akhirnya saat mereka semua berkumpul dan Kak Laisa pun meninggal dunia dengan senyum, dalam novel ini meyakinka bahwa kak Laisa menjadi bidadari surga seperti epilog dalam novel ini
“Wahai, wanita-wanita yang hingga usia 30, 40, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah “terpilih” di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah). Yakinilah, wanita-wanita salehah sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah berbagi, berbuat baik, dan bersyukur, kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari surga parasnya cantik luar biasa.”

UNSUR INTRINSIK NOVEL :
- Latar
Latar dalam novel ini, tampak jelas sehingga pembaca dengan mudah memahami bacaan dan tidak perlu meraba-raba kapan dan di mana peristiwa tersebut terjadi baik latar tempat, waktu, dan suasana, misalnya rumah Laisa dilembah Lahambay.
- Sudut pandang
Sudut pandang dalam Novel tersebut, menggunakan sudut pandang orang ketiga, sehingga penulis/pengarang bisa lebih leluasa dalam menuangkan dan mengungkapkan isi pikirannya.

- Penokohan
Laisa : baik, rela berkorban, kuat, tegas dan mandiri
Mak Lainuri : baik, ibu yang lemah lembut
Dalimunthe : baik, pintar, rajin, penurut dan paling sayang dan peduli dengan kak Lais
Ikanuri : agak sedikit nakal namun baik sebenarnya
Wibisana : baik, rajin sedikit nakal
Yashinta : baik, cantik, suka dengan hewan dan suka berpetualang

- Alur
Alur dalam Novel tersebut, menggunakan alur campuran.

KELEBIHAN NOVEL :
ü  Buku ini sangat menyentuh dan inspiratif, ceritanya sangat menarik. Ceritanya diulas dengan sangat rinci dan seolah pembaca merasakan apa yang diceritakan oleh penulis.
ü  Alur cerita dan bahasa yang digunakan cukup sederhana sehingga mudah untuk dipahami.
ü  Bahasa kiasan yang digunakan sangat indah.
ü  Novel ini disusun dengan balutan dialog-dialog yang cukup berhasil membuat emosi para pembacanya menyelami perasaan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya
ü  Kita juga dapat mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya tentang takdir Tuhan, bahwa hidup, jodoh, rezeki, dan mati adalah sepenuhnya milik Allah. Manusia hanya bisa berusaha semampunya dan berdo’a, tapi keputusan akhir tetap di tangan Allah.

KEKURANGAN NOVEL :
      Gaya bahasa dalam Novel ini agak memusingkan, misalnya untuk peletakan cara memanggil karakter kunci yang kadang dipanggil Kak, kadang dipanggil Wak, di beberapa tempat agak berantakan
      Novel ini yang terasa sedikit janggal adalah mengenai sudut pandang penulis. Terdapat kerancuan pada penempatan posisi penulis dalam cerita ini terkadang tidak ada korelasi dengan jalan cerita.

SARAN
Berdasarkan kekurangan yang telah dikemukakan sebaiknya gaya bahasanya lebih konsisten terhadap panggilan Laisa, dan penulis sebaiknya lebih bisa menempatkan diri untuk penyampaian hubungan penulis dengan laisa dapat disampaikan pada latar belakang bukan didalam alur cerita.